12.22.2012

SNMPTN 2013 berdasarkan rekam jejak akademik siswa

   "Siswa yang mengikuti Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2013 akan diseleksi rekam jejak prestasi akademiknya sejak kelas X,"

Yogyakarta (ANTARA News) - Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri 2013 dilakukan berdasarkan rekam jejak prestasi akademik siswa sejak kelas X, kata ketua panitia seleksi Budi Prasetyo Widyobroto.

"Siswa yang mengikuti Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2013 akan diseleksi rekam jejak prestasi akademiknya sejak kelas X," katanya pada sosialisasi SNMPTN 2013 di Yogyakarta, Selasa.

Menurut dia, rekam jejak prestasi akademik siswa sejak kelas X yang menjadi syarat masuk perguruan tinggi negeri (PTN) itu berbeda dengan tahun lalu yang menggunakan nilai rapor siswa sejak kelas XI.

"Rekam jejak prestasi akademik siswa dilakukan sejak kelas X untuk menghindari kecurangan mengatrol nilai rapor. Dengan demikian guru yang akan bertindak curang bisa diminimalkan," katanya.

Ia mengatakan jika pada SNMPTN 2012 terdapat pembatasan pendaftar berdasarkan akreditasi sekolah dan dikenai biaya pendaftaran, tahun ini batasan tersebut semakin longgar.

"Tahun ini seluruh siswa berhak mendaftar sejauh mendapatkan rekomendasi dari sekolah dan tidak ada lagi biaya pendaftaran. Dengan demikian akses untuk masuk PTN terbuka semakin luas bagi seluruh lapisan masyarakat," katanya.

Menurut dia tahap pendaftaran SNMPTN yang harus dilalui adalah pengisian Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS) oleh kepala sekolah melalui http://pdss.snmptn.ac.id.

Kepala sekolah harus mendaftarkan sekolah, mengisi profil sekolah, mengisi rekam jejak akademik siswa sampai dengan semester lima, nilai rapor semua mata pelajaran dimasukkan kecuali muatan lokal, dan mendapatkan "password" bagi setiap siswa untuk verifikasi.

Siswa melakukan verifikasi rekam jejak prestasi akademik yang telah diisi kepala sekolah, siswa mendaftar SNMPTN melalui laman http://snmptn.ac.id menggunakan Nomor Induk Siswa Nasional (NISN) dan "password" yang diberikan kepala sekolah untuk verifikasi.

Kepala sekolah memberikan rekomendasi kepada siswa yang telah mendaftar SNMPTN, pelamar program studi keolahragaan dan seni harus mengunggah portofolio atau dokumen bukti keterampilan, dan pelamar mencetak Kartu Bukti Pendaftaran sebagai tanda bukti SNMPTN.

"Jadwal pengisian PDSS mulai 17 Desember 2012 hingga 8 Februari 2013, pendaftaran 1 Februari-8 Maret 2013, proses seleksi 9 Maret-27 Mei 2013, pengumuman hasil seleksi 28 Mei 2013, dan pendaftaran ulang 11-12 Juni 2013," katanya.

Ia mengatakan pada tahun ini ada tiga jalur penerimaan mahasiswa baru, yakni SNMPTN, Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN), dan Ujian Mandiri (UM).

"SNMPTN diselenggarakan pemerintah dengan kuota minimal 50 persen, SBMPTN diselenggarakan Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri (MRPTN) dengan kuota minimal 30 persen, dan UM yang diselenggarakan masing-masing PTN dengan kuota maksimal 20 persen," katanya.

Informasi tentang SNMPTN 2013 silahkan klik: http//www.snmptn.ac.id

sumber : antaranews.com

6.15.2012

PROGRAM KETRAMPILAN


ALHAMDULILAHIROBBIL ALAMIN....TELAH DI BUKA
PROGRAM    KETRAMPILAN
DI MA MAARIF BALONG PONOROGO :
1. SENI UKIR
2. TEKNISI KOMPUTER
3. DESAIN GRAFIS
4. TATA BUSANA
5. OTOMOTIF DAN KURSUS MENGEMUDI

6.05.2012

FESTIFAL ANAK SHOLEH TINGKAT TPQ/TPA SE- KAB. PONOROGO

IKUTILAH..........
FESTIFAL ANAK SHOLEH TINGKAT TPQ/TPA SE-KABUPATEN PONOROGO
MEMPEREBUTKAN HADIAH JUTAAN RUPIAH..
 
TEMPAT              : KAMPUS MTs-MA MA'ARIF BALONG PONOROGO
ALAMAT             : Jl. Diponegoro 05 Jalen Balong Ponorogo
HARI/TANGGAL : MINGGU, 24 JUNI 2012


INFORMASI LEBIH LANJUT HUB:
office : (0352) 371 537
Edi Setyawan 081553311229
Joko Wasito  081359330029

5.26.2012

PENGUMUMAN HASIL UN TH. 2011/2012

Diberitahukan dengan hormat bahwa hasil pengumuman Ujian Nasional (UN) Tahun Pelajaran 2011/2012 dilaksanakan pada hari sabtu tanggal 26 Mei 2012 jam 11.WIB.




Adapun persyaratan untuk mengambil hasil pengumuman ujian adalah sebagai berikut:
  1. Melunasi semua tanggungan administrasi
  2. Berpakaian muslim untuk yang laki-laki  harus memakai kopyah/songkok
  3. Transportasi dari rumah memakai sepedah ontel/jalan kaki, kecuali yang rumahnya jauh (20 km) diperbolehkan naik angkutan umum/bus.
  4. Adapun bagi siswa yang tidak memenuhi ketentuan pada dictum 1.2.3 maka  pengumuman diberikan setelah memenuhi ketentuan tersebut.

Demikian penguman ini kami sampaikan untuk dilaksanakan sebagaimana mestinya.

12.28.2011

Animator Ipin Upin, Shrek, dan Tintin ternyata dari Indonesia

Siapa sangka kalau film Ipin Upin yang sangat popular dan digemari yang berasal dari Malaysia itu salah satu animatornya adalah dari Indonesia. Kiki panggilan akrab anak ikang fauzi ini saat memulai Karirnya saat ikut program magang di perusahaan di Las’ Copaque Production (rumah produksi yang membuat film animasi Upin-Ipin).

Yang lebih membanggakan lagi adalah Griselda Sastrawinata, dia adalah anak Indonesia yang menjadi salah satu animator film animasi Holywood, Shrek. Griselda bekerja sebagai animator di studio film ternama Dreamworks di California, Amerika Serikat, yang menghasilkan film-film animasi terkenal seperti Shrek, Madagascar, Kungfu Panda & Bee Movie.

Ia bekerja sebagai visual development artist, di Artistic Department. Griselda adalah 1 dari 5 perempuan yang bekerja sebagai artist di Dreamworks.

Proyek yang dikerjakan Griselda adalah film Shrek Forever After dan ia terlibat menciptakan sebuah karakter atau tokoh baru dalam serial yang pertama kali diluncurkan tahun 2001 tersebut. Ia sudah 3 tahun bekerja di sana. Tantangan utamanya bekerja di Dreamworks adalah dikejar tenggat waktu (dealine).

Begitu juga yang tak kalah membanggakan adalah Rini Sugianto. Dia tercatat sebagai animator utama untuk film produksi Hollywood dalam film animasi Tintin, “The Adventures of Tintin” Rini yang saat ini bekerja sebagai animator di perusahaan WETA digital di Selandia Baru, baru-baru ini ikut menggarap film "The Adventures of Tintin." Sebelumnya, Rini yang adalah lulusan S2 dari Academy of Arts di San Francisco, California rela untuk meninggalkan pekerjaan dan kehidupannya di Amerika dan pindah ke Selandia Baru, setelah mendapat tawaran untuk menggarap film yang disutradarai oleh Stephen Spielberg ini.

Dalam film "The Adventures of Tintin," Rini bertindak sebagai animator dengan andil paling besar. dia mengerjakan paling banyak adegannya, total ada 70 shot di film Tintin, “Yang paling besar, adalah karena komiknya itu udah terkenal. Jadi orang-orang sudah familiar sama karakternya. Kita nggak bisa sembarangan mengubah ceritanya atau mengubah terlalu jauh dari aslinya,” tambah Rini. Penggarapan film "The Adventures of Tintin" ini juga memakan waktu yang tidak sebentar. “Animasinya sendiri, full production-nya mungkin sekitar setahun setengah. Tapi proyeknya sendiri sudah mulai sekitar empat tahun lalu."

Tapi, untuk beberapa tahun pertama, mereka hanya mengerjakan ceritanya. Fokusnya adalah untuk mengerjakan storyboard sampai solid,” kata Rini. Saat ini, Rini juga sedang menggarap animasi untuk film Hollywood lainnya. “Sekarang lagi ngerjain film "The Avengers," jadi kalau pada nonton film "Thor" dan "Captain America" dulu, ada klip-klipnya untuk "The Avengers." Ini gabungan semua superhero,” jelasnya.

Kita patut berbangga, siapa lagi menyusul anak-anak Indonesia…

Syams, dari berbagai sumber

12.15.2011

Rp 1 Triliun untuk 9 Juta Siswa SMA/SMK

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menganggarkan Rp 1 triliun untuk penyaluran dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) bagi sembilan juta siswa SMA/SMK pada tahun 2012 mendatang. Dana BOS bagi siswa SMA/SMK memang akan mulai dirintis oleh Kemdikbud mulai 2012.

Program ini sebagai upaya untuk mewujudkan wajib belajar 12 tahun, dengan nominal sebesar Rp 120 ribu per tahun untuk setiap siswa.
Mungkin baru pada tahun 2013/2014 BOS untuk siswa SMA/SMK akan diberikan secara penuh
Mendikbud M Nuh: "Ini murni dana BOS, bukan beasiswa miskin. Untuk siswa miskin sudah ada dalam beasiswa miskin," kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nuh, Senin (12/12/2011), di Jakarta.

Akan tetapi, Nuh mengakui, dana BOS tersebut belum mampu menutupi seluruh kebutuhan operasional sekolah. Ia mengungkapkan, BOS untuk siswa SMA/SMK ini baru merupakan sebuah rintisan untuk membangun sistem yang baik sebelum dana tersebut digelontorkan dalam jumlah yang lebih besar.

Ia menjelaskan, unit cost untuk masing-masing siswa SMA/SMK di setiap tahunnya mencapai sekitar Rp 1 juta. Menurut perhitungan Kemdikbud, setidaknya perlu disiapkan anggaran sebesar Rp 9 triliun jika ingin memberikan dana BOS untuk sembilan juta siswa sekolah setingkat SMA/SMK dengan nominal Rp 1 juta di setiap tahunnya.

"Kami sengaja tidak langsung memberikan penuh, karena selain terbatasnya anggaran, kami juga ingin membangun sistemnya terlebih dahulu. Mungkin baru pada tahun 2013/2014 BOS untuk siswa SMA/SMK akan diberikan secara penuh," katanya.

Dana BOS untuk siswa SMA/SMK akan diambil dari alokasi dana pendidikan melalui Anggaran pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Menurut Nuh, semua harus disiapkan karena berdasarkan pengalaman, dalam beberapa tahun terakhir anggaran pendidikan selalu mengalami peningkatan sekitar Rp 40 triliun. Peningkatan anggaran itu akan digunakan untuk membayar tunjangan sertifikasi, dan memberikan dana BOS pada pendidikan menengah guna mewujudkan wajib belajar 12 tahun.

"Ketika ada BOS, maka populasi siswa SMA akan naik, tapi jika naik tanpa persiapan kami khawatir akan menjadi masalah baru. Maka kami rintis ini untuk membentuk sistem yang kuat," kata Nuh.
Sumber: KOMPAS.com

12.13.2011

Evaluasi Diri Sekolah (EDS)

Evaluasi Diri Sekolah (EDS) di tiap sekolah menjadi tanggung jawab kepala sekolah dan dilakukan oleh Tim Pengembang Sekolah (TPS) yang terdiri dari Kepala Sekolah, guru, Komite Sekolah, orang tua peserta didik, dan pengawas. Proses EDS dapat mengikutsertakan tokoh masyarakat atau tokoh agama setempat. Instrumen EDS ini khusus dirancang untuk digunakan oleh TPS dalam melakukan penilaian kinerja sekolah terhadap 8 Standar Nasional Pendidikan (SNP) yang hasilnya menjadi masukan dan dasar penyusunan Rencana Pengembangan Sekolah (RPS) dalam upaya peningkatan kinerja sekolah. EDS sebaiknya dilaksanakan setelah anggota TPS mendapat pelatihan.

Informasi ringkas tentang EDS dapat dilihat di bawah ini:
1. Apakah yang dimaksud dengan Evaluasi Diri Sekolah?
Evaluasi diri sekolah adalah proses yang mengikutsertakan semua pemangku kepentingan untuk membantu sekolah dalam menilai mutu penyelenggaraan pendidikan berdasarkan indikator-indikator kunci yang mengacu pada 8 Standar Nasional Pendidikan (SNP).
Melalui EDS kekuatan dan kemajuan sekolah dapat diketahui dan aspek-aspek yang memerlukan peningkatan dapat diidentifikasi.
Proses evaluasi diri sekolah merupakan siklus, yang dimulai dengan pembentukan TPS, pelatihan penggunaan Instrumen, pelaksanaan EDS di sekolah dan penggunaan hasilnya sebagai dasar penyusunan RPS/RKS dan RAPBS/RKAS.
TPS mengumpulkan informasi dari berbagai sumber untuk menilai kinerja sekolah berdasarkan indikator-indikator yang dirumuskan dalam Instrumen. Kegiatan ini melibatkan semua pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah untuk memperoleh informasi dan pendapat dari seluruh pemangku kepentingan sekolah.
EDS juga akan melihat visi dan misi sekolah. Apabila sekolah belum memiliki visi dan misi, maka diharapkan kegiatan ini akan memacu sekolah membuat atau memperbaiki visi dan misi dalam mencapai kinerja sekolah yang diinginkan.
Hasil EDS digunakan sebagai bahan untuk menetapkan aspek yang menjadi prioritas dalam rencana peningkatan dan pengembangan sekolah pada RPS/RKS dan RAPBS/RKAS.
Laporan hasil EDS digunakan oleh Pengawas untuk kepentingan Monitoring Sekolah oleh Pemerintah Daerah (MSPD) sebagai bahan penyusunan perencanaan pendidikan pada tingkat kabupaten/kota.

2. Apa yang diperoleh sekolah dari hasil EDS?
Seberapa baik kinerja sekolah? Dengan EDS akan diperoleh informasi mengenai pengelolaan sekolah yang telah memenuhi SNP untuk digunakan sebagai dasar penyusunan RPS/RKS dan RAPBS/RKAS.
Bagaimana mengetahui kinerja sekolah sesungguhnya? Dengan EDS akan diperoleh informasi tentang kinerja sekolah yang sebenarnya dan informasi tersebut diverifikasi dengan bukti-bukti fisik yang sesuai.
Bagaimana memperbaiki kinerja sekolah? Sekolah menggunakan informasi yang dikumpulkan dalam EDS untuk menetapkan apa yang menjadi prioritas bagi peningkatan sekolah dan digunakan untuk mempersiapkan RPS/RKS dan RAPBS/RKAS.

3. Keuntungan apa yang akan diperoleh sekolah dari EDS?
Sekolah mampu mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya sebagai dasar penyusunan rencana pengembangan lebih lanjut.
Sekolah mampu mengenal peluang untuk memperbaiki mutu pendidikan, menilai keberhasilan upaya peningkatan, dan melakukan penyesuaian program-program yang ada.
Sekolah mampu mengetahui tantangan yang dihadapi dan mendiagnosis jenis kebutuhan yang diperlukan untuk perbaikan.
Sekolah dapat mengetahui tingkat pencapaian kinerja berdasarkan 8 SNP.
Sekolah dapat menyediakan laporan resmi kepada para pemangku kepentingan tentang kemajuan dan hasil yang dicapai.

4. Seberapa sering sekolah melakukan EDS?
Sekolah melakukan proses EDS setiap tahun sekali.

5. Bagaimana bentuk Instrumen EDS?
Instrumen EDS terdiri dari 8 (delapan) bagian sesuai dengan 8 SNP. Setiap bagian terdiri atas :
· Serangkaian pertanyaan terkait dengan SNP sebagai dasar bagi sekolah dalam memperoleh informasi kinerjanya yang bersifat kualitatif.
· Setiap standar bisa terdiri dari beberapa aspek yang memberikan gambaran lebih menyeluruh
· Setiap aspek dari standar terdiri dari 4 tingkat pencapaian : tingkat pencapaian 1 berarti kurang, 2 berarti sedang, 3 berarti baik, dan 4 berarti amat baik.
· Tiap tingkatan pencapaian mempunyai beberapa indikator.
· Pada bagian akhir dari aspek setiap standar, terdapat halaman rekapitulasi untuk menuliskan hasil penilaian pencapaian yang diperoleh. Halaman rekapitulasi ini terdiri dari bukti fisik yang menguatkan pengakuan atas tingkat pencapaian, deskripsi umum temuan yang diperoleh untuk menilai aspek tersebut, dan penentuan tingkat pencapaian kinerja sekolah.
· Sejumlah pertanyaan terkait dengan 8 SNP yang paling erat hubungannya dengan mutu pembelajaran dan aspek-aspek yang perlu dikembangkan bagi keperluan penyusunan rencana peningkatan sekolah.
· Tingkat pencapaian pada tiap Standar dalam Instrumen ini dapat digunakan sekolah untuk menilai kinerjanya pada standar tertentu.

6. Bagaimana sekolah menggunakan tingkat pencapaian?
Anggota TPS secara bersama mencermati Instrumen EDS pada setiap aspek dari setiap standar. Sebaiknya perlu disiapkan peraturan menteri, indikator atau peraturan pemerintah yang berkaitan dengan SNP sebagai rujukan.
Berdasarkan kondisi nyata sekolah, anggota TPS menilai apakah sekolah mereka termasuk dalam tingkatan 1, 2, 3 atau 4 dalam pencapaian 8 SNP ini. Misalnya pada Standar Isi ada aspek kesesuaian dan relevansi kurikulum serta aspek penyediaan kebutuhan untuk pengembangan diri. Bisa saja aspek kesesuaian dan relevansi kurikulum berada di tingkat 4, tapi aspek kebutuhan untuk pengembangan diri ada di tingkat 2. Ini tidak menjadi masalah. Tingkat pencapaian pada setiap standar menggambarkan keadaan seperti apa kondisi kinerja sekolah pada saat dilakukan penialian terkait dengan pertanyaan tertentu.
Setelah menentukan tingkat pencapaiannya, sekolah perlu menyertakan bukti fisik atas pengakuannya. Contoh bukti fisik atas keikutsertaan masyarakat dalam kehidupan sekolah berupa rapat komite sekolah, notulen, daftar hadir, dan undangan.
Hasil semua penilaian dan penentuan tingkat pencapaian kinerja sekolah untuk aspek tertentu pada setiap standar ditulis pada lembar laporan penilaian atau rekapitulasi dengan menyertakan bukti fisik yang sesuai (lihat keterangan pada nomor 5 di atas).
Sekolah menetapkan tingkat pencapaian kinerja dan bukan hanya sekedar memberikan tanda cek (contreng) pada setiap butir dalam Instrumen EDS.
Tingkat pencapaian kinerja sekolah bisa berbeda dalam aspek yang berbeda pula. Hal ini penting sebab sekolah harus memberikan laporan kinerja apa adanya. Dalam pelaksanaan EDS yang dilakukan setiap tahun, sekolah mempunyai dasar nyata aspek dan standar yang memerlukan perbaikan secara terus-menerus.
Dengan menggunakan Instrumen EDS ini, sekolah dapat mengukur dampak kinerjanya terhadap pembelajaran peserta didik. Sekolah juga dapat memeriksa hasil dan tindak lanjutnya terhadap perbaikan layanan pembelajaran yang diberikan dalam memenuhi kebutuhan pembelajaran peserta didik.

7. Jenis bukti apa yang dapat ditunjukkan?
Bukti fisik yang menggambarkan tingkat pencapaian harus sesuai dengan aspek atau standar yang dinilai. Untuk itu perlu dimanfaatkan berbagai sumber informasi yang dapat dijadikan sebagai bukti fisik misalnya kajian catatan, hasil observasi, dan hasil wawancara/konsultasi dengan pemangku kepentingan seperti komite sekolah, orang tua, guru-guru, siswa, dan unsur lain yang terkait.
Perlu diingat bahwa informasi kualitatif yang menggambarkan kenyataan dapat berasal dari informasi kuantitatif. Sebagai contoh, Rencana Pelaksanaan Pengajaran (RPP) tidak sekedar merupakan catatan mengenai bagaimana pengajaran dilaksanakan. Keberadaan dokumen kurikulum bukan satu-satunya bukti bahwa kurikulum telah dilaksanakan.
Berbagai jenis bukti fisik dapat digunakan sekolah sebagai bukti tingkat pencapaian tertentu. Selain itu, sekolah perlu juga menunjukkan sumber bukti fisik lainnya yang sesuai.

8. Bagaimana proses EDS membantu penyusunan rencana pengembangan sekolah?
· TPS menganalisis informasi yang dikumpulkan, menggunakannya untuk mengidentifikasi dan menetapkan prioritas yang selanjutnya menjadi dasar penyusunan RPS/RKS dan RAPBS/RKAS.
· Berdasarkan hasil EDS, sekolah mengembangkan RPS dengan prioritas peningkatan mutu kinerja sekolah yang dirumuskan secara jelas, dapat diobservasi dan diukur. Dengan demikian, RPS menjadi dokumen kinerja sekolah yang meliputi aspek implementasi, skala prioritas, batas waktu, dan ukuran keberhasilannya.
· Proses EDS berkaitan dengan aspek perubahan dan peningkatan. Upaya perubahan dan peningkatan tersebut hanya bermanfaat apabila diwujudkan dalam perencanaan bagi peningkatan mutu pendidikan dan hasil belajar peserta didik. Diharapkan dengan adanya ragam data dan informasi yang diperoleh dari hasil EDS, sekolah bukan saja dapat merumuskan perencanaan pengembangan dengan tepat, akan tetapi penilaian kemajuan di masa depan juga akan lebih mudah dilakukan dengan tersedianya data yang dapat dipercaya. Hal tersebut dengan sendirinya memudahkan sekolah untuk menunjukkan hasil-hasil upaya peningkatan mereka setiap saat.

9. Laporan apa yang perlu disiapkan?
· Sekolah menyusun laporan hasil EDS dengan menggunakan format yang terpisah, yang menyajikan tingkat pencapaian serta bukti-bukti yang digunakannya. Hasil EDS digunakan untuk dasar penyusunan RPS sekolah, namun dilaporkan juga ke Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota atau Kandepag untuk dianalisis lanjut dengan memanfaatkan EMIS (Educational Management Information System/Sistem Informasi Manajemen Pendidikan) bagi keperluan perencanaan dan berbagai kegiatan peningkatan mutu lainnya.
· Laporan sekolah yang mengungkapkan berbagai temuan dapat digunakan untuk melakukan validasi internal (menilai dan mencocokkan) oleh pengawas sekolah, dan validasi external dengan menggunakan beberapa sekolah oleh Kelompok Kerja Pengawas Sekolah (KKPS) pada tingkat kecamatan dengan bantuan staf penjaminan mutu dari LPMP.
· Hasil EDS merupakan bagian yang penting dalam kegiatan monitoring kinerja sekolah oleh pemerintah daerah dalam rangka penjaminan dan peningkatan mutu pendidikan.

11.22.2011

PP LP Ma’arif NU dan Direktorat PSMP Kemdikbud RI Kerjasama Survey PKBM Paket B

Lembaga Pendidikan Ma’arif NU menjadi salah satu lembaga yang diajak bekersama oleh Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama Ditjen Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk melakukan survey nasional terhadap Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM), khususnya paket B. Proyek tersebut dijalankan selama 3 bulan (Oktober - Desember 2011), dengan tujuan untuk memperoleh gambaran menyeluruh tentang kondisi PKBM Paket B yang tersebar di seluruh Indonesia, baik dari segi legalitas lembaga, manajemen pengelolaan, kondisi peserta didik, kondisi tenaga pendidik dan kependidikan, serta sarana dan prasarana yang dimiliki. Lembaga lain yang juga berpartisipasi dalam program ini adalah Yayasan CLC  Jakarta.

Program Paket B mempunyai peran signifikan bagi perluasan akses pendidikan maupun peningkatan mutu pendidikan. Program inilah yang bisa menjawab berbagai masalah yang dihadapi oleh kelompok tertentu di masyarakat yang selama ini mempunyai kendala dalam mengikuti pendidikan di jenjang formal. Lulusan program ini, menurut Mamat S. Burhanuddin, Sekretaris PP LP Ma’arif NU, disetarakan dengan lulusan sekolah atau madrasah (formal), sehingga dapat melanjutkan pendidikan di jenjang berikutnya.

Dengan adanya program ini, diharapkan terjaring gambaran yang utuh dan menyeluruh mengenai lembaga-lembaga yang ada di masyarakat yang menyelenggarakan program paket B.

Dalam proses identifikasi, PP LP Ma’arif NU memaksimalkan jaringannya di tingkat wilayah dan kabupaten/kota yang tersebar di seluruh Indonesia. Program ini melibatkan 16 orang koordinator provinsi, dan lebih dari 300 orang sebagai petugas lapangan untuk mendata PKBM yang tersebar di 16 propinsi. Terhadap 17 propinsi lainnya, pendataan dilakukan oleh Yayasan CLC.

Output dari kegiatan ini adalah direktori PKBM baik tingkat nasional maupun propinsi. Pada akhirnya nanti, hasil pendataan yang dilakukan oleh LP Ma’arif NU dan Yayasan CLC akan disatukan menjadi data resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Sumber: http://www.maarif-nu.or.id